Sabtu, 26 Oktober 2013

Teori motivasi Akademik

       Pikiran dan perasaan akan mempengaruhi tindakan yang akan kita ambil, termasuk dalam proses belajar. Setiap harapan , pengalaman masa lalu, dan Locus of control kita dapat menjelaskan perilaku belajar kita. Sebagai contoh ketika ditemui seorang individu yang rajin belajar, dan akhirnya didapati bahwa ia memiliki harapan berprestasi yang tinggi dan pengalaman bahwa dengan kerja keras ia pernah meraih prestasi, dan sebagai orang yang locus of controlnya eksternal ia mendapat dukungan yang tinggi dari lingkungannya. Sedikit banyaknya kita bisa melihat bagaimana setiap kondisi itu mempengaruhi pemikirannya dan juga perilakunya. Hal ini pulalah yang dijelaskan oleh teori motivasi ini, faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan pemelajar dalam proses belajar menjadi fokus dalam model ini.

ASUMSI DASAR
         Adapun yang menjadi asumsi dasar dari teori ini adalah:
  • motivasi individual adalah hasil dari interaksi antara faktor lingkungan dengan karakteristik tertentu anak
  • pemelajar adalah pemroses informasi yang aktif
  • motif, kebutuhan, atau tujuan siswa adalah pengetahuan eksplisit
PENDEKATAN UNTUK STUDI MOTIVASIONAL
  1. Model Ekspektasi Nilai , Model ini memandang ekspektasi dan nilai sebagai konstruk kognitif, yang berpengaruh langsung terhadap perilaku yang terkait prestasi. Menurut model ini, ekspektasi dan penilaian kita pada setiap tugas menjadi determinan penting untuk melakukan sesuatu. Terdapat lima perilaku yang dipengaruhi oleh proses motivasional, yaitu : kegigihan, tingkat usaha, keterlibatan kognitif, pilihan, dan kinerja aktual. Adapun faktor-faktor yang memberi kontribusi pada keyakinan motivasional, adalah: dunia sosial di mana siswa menjalankan fungsinya, persepsi tentang pengalaman sosial, sikap siswa, dan faktor yang berkaitan dengan masa lalu.
  2. Model Orientasi tujuan,  Model ini membahas alasan siswa untuk melakukan tugas akademik, apakah untuk mempelajari konsep baru, menunjukkan kompetensi seseorang kepada orang lain, atau tujuan lainnya. Tujuan ini akan menentukan bagaimana siswa akan mendekati dan melakukan tugas.
  3. Teori atribusi, Teori ini membahas pemikiran, emosi, dan ekspektasi seseorang setelah muncul hasil yang terkait dengan pencapaian. Teori ini didasarkan pada  asumsi , yaitu: (1)pencarian pemahaman adalah motivator utama dari tindakan ;(2) atribusi untuk hasil yang berkaitan dengan keberhasilan merupakan sumber informasi yang kompleks; dan (3) perilaku masa depan ditentukan sebagian oleh anggapan tentang penyebab dari hasil sebelumnya. Menurut teori ini proses yang terlibat dalam menentukan kesuksesan atau kegagalan(atribusi), emosi dan ekspektasi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya.
Referensi:
    • Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana
READ MORE

Selasa, 15 Oktober 2013

Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget

Untuk memahami gagasan tentang belajar yang memadai, kita pertama-tama harus menjelaskan bagaimana individu bisa mengonstruksi dan menciptakan, bukan hanya bagaimana dia mengulangi dan meniru.( Piaget, 1970b)

Sebagaimana dengan pernyataan yang dituliskan di atas,  teori Piaget menjelaskan tentang asal muasal logika alamiah dan transformasinya. Menurut Piaget pengetahuan bukanlah kuantitas dan sesuatu yang bersifat statis. Mengetahui adalah sebuah proses , ia berkembang melalui adaptasi individual terhadap terhadap lingkungan, dan ia terus-menerus berubah.

Asumsi teori perkembangan kognitif Piaget

           Dalam mengembangkan teori perkembangan kognitif piaget yang asumsinya berfokus pada hakikat konstruktivis dari kecerdasan, Piaget mengembangkan riset dengan kerangka sebagai berikut:
pertanyaan
sumber
asumsi
Apa hakikat pengetahuan?
filsafat
Pengetahuan adalah mengetahui, dan ia adalah sebuah proses yang diciptakan melalui aktivitas pemelajar

Pengetahuan berasal dari pengalaman mentrasnformasi realitas melalui interaksinya dengannya
Apa relasi antara orang yang mengetahui dan realitas?

a)      Dalam penciptaan pengetahuan, individu dan objek berpadu dan tidak dapat dipisahkan
b)      Hubungan antara pemelajar dan objek tidak ditentukan sebelumnya dan yang lebih penting adalah relasi itu tidak stabil
Apa hakikat kecerdasan?
biologi
Kecerdasan manusia dan organisme berfungsi serupa.
Keduanya adalah sistem terorganisir yang secara konstan berinteraksi dengan lingkungan. Mereka juga membangun struktur yang mereka butuhkan dalam rangka beradaptasi dengan lingkungan
Apa metode investigasi yang tepat?
psikologi
Observasi dan ekspeimentsi

Faktor-faktor esensil dalam perkembangan kognitif

             Menurut Piaget, ada empat faktor yang diperlukan untuk transformasi perkembangan dari suatu bentuk penalaran ke bentuk yang lain.
Faktor itu adalah:
·         Lingkungan fisik, kontak dengan lingkungan fisik akan sangat membantu individu dalam mengembangkan pengetahuan.
·         Kematangan, meskiupun kontak dengan lingkungan fisik sangat berguna bagi individu untuk mengembangkan pengetahuan. Kemaksimalannya dipengaruhi juga oleh tingkat kematangan individu. Sekalipun lingkungan fisik menyediakan berbagai sumber pengetahuan, ketika individu tidak mampu memaknainya maka tidak akan berhasil.
·         Pengaruh sosial, hal ini meliputi  peran bahasa dalam pendidikan. Interaksi sosial penting dalam tukar-menukar informasi
·         Equilibration, selain ketiga faktor tersebut dibutuhkan adanya keseimbangan antara interaksi individu dan lingkungan agar perkembangan kognitif bisa tetap berjalan.

sumber:Gtedler, Margaret.E., 2011., Learning and instruction, teori dan aplikasi. Jakarta: Kencana

s

s
READ MORE

Senin, 07 Oktober 2013

Problem Based Learning

A. Sejarah Problem Based Learning

Ketika pertama berkenalan dengan metode ini, saya pikir PBL adalah metode yang masih cukup baru, ternyata tidak. Metode ini pertama kali digunakan di sekolah medis, yang kemudian merambas ke berbagai sekolah lain. Sesuai dengan sumber yang saya baca, PBL pertama kali diperkenalkan oleh Faculty of Health Sciences of McMaster University di Kanada pada tahun 1966. Kemudian pada tahun 1976, Maastricht Faculty of Medicine di Belanda menyusul sebagai institusi pendidikan kedokteran kedua yang mengadopsi PBL. Sebenarnya terdapat beberapa pendapat yang berbeda tentang tahun dan penemu dari metode ini. Ada yang mengatakan bahwa PBL ini dirancang pada tahun 1986. Meskipun terdapat perbedaan informasi mengenai tahun penemuannya, namun semuanya mengatakan bahwa metode ini pertama kali digunakan oleh sekolah medis, baru kemudian diadopsi ke bidang pendidikan lainnya.

B. Defenisi

Dari namanya saja, sebenarnya kita bisa mendapatkan gambaran mengenai apa itu PBL, yaitu pembelajaran yang didasarkan pada fenomena dan masalah yang ada. Problem Based Learning adalah metode pembelajaran yang menggunakan masalah untuk memicu pembelajaran, sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru (Tim PDPT UI, 2005; Widjayakusumah, 2005).
Metode ini memungkinkan siswa belajar dari pengalamannya dalam memecahkan masalah. Dengan adanya metode ini, maka siswa memperoleh kesempatan untuk berpikir dan menganalisa.

C. Pengalaman Belajar dengan PBL melalu CML

Beberapa waktu lalu, kami ditugaskan untuk melakukan diskusi kelompok secara online. Dalam diskusi ini kami diminta membahas tentang masalah yang kami alami dalam kelas Psikologi Belajar. Yang kami temukan tentulah masalah belajar di kelas, yaitu mengenai ketidakaktifan mahasiswa dan ketidakmaksimalam kelas. Mata kuliah Psikologi Belajar sebenarnya membahas mengenai teori-teori dan proses-proses belajar yang terjadi. Jadi intinya kami mencoba mempelajari diri kami sendiri. Sebenarnya diskusi kami belum maksimal, kesulitannya adalah menghubungkannya dengan teori belajar. Kami masih kurang mampu menghubungkan antara masalah dan teori. Namun demikian, metode ini membantu saya dalam memahami teori-teori belajar.


daftar pustaka :

READ MORE